Sunday, December 20, 2020

biografi

Nama : Siti Khusnul Fatimah
Kelas : 1G
jurusan : Pendidikan Agama Islam
Deskripsi biografi tokoh
Saya memilih : Orang Tua
      Hallo teman-teman seperjuangan……..
Alhamdulillah kita bisa berjumpa lagi di blok aku ini….
Oo iya sebelumnya izinkan aku untuk memperkenalkan diri aku untuk kesekian kalinya, tidak apa-apa supaya kita bisa saling mengenal dan lebih akrab…..
Nama ku “Siti Khusnul Fatimah” tinggal di desa tasik Malaya.
Baiklah langsung saja pada blog kali ini saya akan menceritakan sebuah biografi singkat tentang orang tua.
Hamdan merupakan anak ke 6 (enam)  dari 8 (delapan)  Bersaudara. Beliau memiliki Istri bernama Sunarti. Beliau dikaruniai 1 orang anak laki-laki dan 3 orang anak pereempuan. Muhammad Syakirin adalah anak pertamanya. Ia sudah berumur 22 tahun. Sekarang dia kuliah di universitas muhammadiyah Pontianak. Anak keduanya adalah perempuan bernama Siti Khusnul Fatimah berumur 18 tahun. Sekolah di Institut Agama Islam negeri Pontianak.anak ketiganya bernama Tuti Nurmawaddah berumur 16 tahun sekaraang sekolah di SMA Negeri 1 Batu Ampar.  Dan anak yang keempat adalah Syuhada berumur 9 tahun sekolah di SDN 06 SATAP Batu Ampar. Beliau mendidik anaknya dengan tegas. Apa yang dikatakan beliau harus dilakukan. Beliau juga sangat menekankan kepada semua anaknya for always remember to god. Setiap waktu anak-anaknya tidak ada yang boleh meninggalkan shalat. Itu yang utama. Meskipun beliau tidak tinggal bersama. Tetapi anak-anaknya selalu patuh  terhadap apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Ada yang tinggal bersama neneknya dan ada juga yang tinggal bersama pamannya. Tetapi beliau yakin anak-anaknya menuntut ilmu itu merupakan salah satu ibadah. Dan akan di balas dengan pahala.
Beliau bertekad akan menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dan berhasil. Mengingat waktu beliau pada masa kecil tidak di izinkan untuk sekolah oleh kedua orang tuanya. Beliau di tekankan untuk bekerja di sawah dan mengembala sapi, beliau sangat sedih. Sekarang beliau tidak ingin melihat anak-anaknya putus sekolah dan merasakan apa yang beliau rasakan dulu. Tetapi, disamping itu ia menyekolahkan anak-anaknya  untuk bersungguh-sungguh dan selalu serius dalam menuntut ilmu. Harapan beliau sekarang adalah ingin sukses dalam mendidik anaknya dan mampu menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.
Beliau di lahirkan dalam sebuah keluarga yang sederhana dari pasangan Dalek dan Nurseli. Tepatnya pada tanggal 01-07-1977 di desa Tasik Malaya. Orang tuanya memberikannya  nama Hamdan. Beliau merupakan anak yang ke 6 (enam) dari 8 bersaudara.

Kelahirannya di permudahkan oleh allah swt. Beliau lahir di rumah nenek dan kakeknya. Karena orang tuanya belum memiliki rumah. Saat beliau lahir, ayahnya tidak melihat secara langsung proses kelahiran anak ke 6 (enam)   dikarenakan ayahnya sedang berada di luar. Ayahnya ke sana untuk mencari nafkah seperti kebiasaan masyarakat bugis pada umumnya, yaitu merantau. Saat beliau berumur 2 bulan ia sakit. Ibunya yang saat itu masih tinggal di rumah orang tuanya sempat merasa khawatir. Tiga hari panas badannya mulai turun. Ibunya mulai lega. Akan tetapi, di malam harinya kembali mencret-mencret. Banyak tetangga yang berpendapat bahwa kemungkinan ia merindukan sosok ayahnya yang belum kembali. Neneknya menyarankan ibunya agar segera memberitahukan kepada ayahnya supaya kembali. Tetapiibunya bersikeras tidak ingin memberitahukan suaminya. Takutnya ayahnya gelisah memikirkan hal itu. Padahal ayahnya baru saja pergi 2 hari sebelum anaknya lahir.

Di desa tasik Malaya adalah tempat kelahiran beliau. Di tempat inilah banyak menyiimpan kenangan bagi beliau. Sebuah desa yang jauh dari kota. Karena jarak yang cukup jauh dari pusat pemerintah, desa ini masih belum tersentuh oleh kemajuan. Jalan yang berlumpur saat hujan, di tambah lagi desa ini belum tersentuholeh penerangan listrik. Kebanyakan warga desa, termasuk tempat tinggal beliau menggunakan penerangan berupa pelita, atau lampu sumbu dengan bahan bakar minyak. Desa ini masih terisolir, jalan kampung beliau banyak di lalui sapi yang lalu-lalang. Desa ini lebih erring dilalui oleh sepeda motor. Meskipun desa ini masih terisolir, setidaknya kampung ini merupakan salah satu kampung yang di lalui oleh rute pesawat. Sehingga, ketika pesawat melintasi langit anak-anak kecil mendongakkan kepalanya dan menjadi riuh. Meski sering melihatnya, tetap saja mereka berteriak kegirangan ketika melihat pesawat. Hal itu juga menjadi salah satu kebiasaan atau hobby beliau. Setiap harinya beliau di sibukkan oleh beberapa permainan tradisional. Seperti main kelereng, main karet, dan main layangan. Beliau merupakan jagoan dalam permainan tradisional.

Beliau berkeinginan untuk sekolah sangat tinggi. Beliau masuk sekolah dasar (SD) pada tahun 1986. Beliau sekolah di SDN 01 batu ampar. Beliau berangkat sekolah bersama kakak dan adiknya. Saat pertama kali masuk kelas 1, ia ditertawai oleh gurunya. Karena ukuran tulisan beliau sangatlah besar. Anehnya beliau pintar berhitung dan membaca. Hanya saja beliau belum pintar menulis. Beliau termasuk salah satu anak yang cukup cerdas. Setiap hari beliau gurunya menulis. Hingga akhirnya ia sudah pandai. Sepulang sekolah, ia membantu orang tuanya untuk membersihkan rumah.  Beliau ke sekolah memakai sepatu hanya  hari senin saja. Di hari-hari lain seperti selasa, rabu, kamis, jum’at dan sabtu hanya memakai sandal. Itupun sandal yang di pakai hanya sandal jepit. Beliau membeli sepatu dari hasil kerja kerasnya.
Pada masa pengorbanan beliau. Beliau tidak lagi menikmati masa-masa tinggal bersama kedua orang tua dan saudaranya. Beliau sudah tidak sekolah lagi. Untuk membantu pemasukan kedua orang tuanya, ayahnya menyarankan agar beliau berangkat ke batu ampar. Beliau di sana hanya tinggal selama 2 tahun. Pekerjaan yang dikerjakannya adalah belajar berkebun. Beliau baru belajar berkebun karena pada saat beliau tinggal bersama kedua orang tuanya beliau hanya di ajarkan oleh ayahnya bersawah. Beliau belajar menanam sayur, dan berbagai macam sayur beliau tanam. Sehingga akhirnya beliau berhasil menanam sayur dan memasarkannya.
Pada tahun 1996  beliau pulang ke rumah orang tuanya. Tepatnya di desa tasik Malaya. Semua keluarganya termasuk nenek dan kakeknya menyarankan agar beliau mencari pendamping. Semua menginginkan beliau menikah. Karena beliau merupakan anak yang pendiam dan sabar. Masalah jodoh ia serahkan kepada kedua orang tuanya. Karena keputusan beliau, kedua orang tuanya telah memilih yang tepat buat dirinya. Usianya selisih 3 (tiga) tahun. Menurut orang tuanya ia merupakan orang yang sabar. Sama seperti sifat beliau. Dari sinilah beliau bertemu dengan seorang wanita idamannya. Meskipun beliau belum saling mengenal satu sama lain. Tapi beliau dan istrinya bisa melalui semua masalah yang beliau hadapi bersama dengan istri tercintanya. Beliau menikah pada tahun 1997. Awal menikah beliau tidak langsung memiliki rumah. Beliau tinggal bersama mertuanya. Setiap hari beliau membantu mertuanya ke sawah. Dari sinilah beliau mendapatkan uang tabungan sendiri. Dari tabungan itulah, beliau berangkat ke batu ampar bersama istri dan anak pertamanya. Pada saat itu anaknya masih belum cukup dua bulan. Orang tuanya sangat khawatir akan keadaan cucu pertamanya tersebut. Disinilah beliau mencari nafkah dan hidup. Jauh dari kedua orang tua merupakan suatu beban, tetapi beliau mengingat bahwa pada saat beliau masih kecil orang tuanya pernah berkata “ dimana ada perkumpulan pasti ada perpisahan”. Kata-kata itu sudah terbukti. Pada saat beliau masih kecil, mereka semua tinggal bersama, tapi sekarang semuanya telah berpisah.
“ semoga allah selalu melindungi kedua orang tuaku dimana pun mereka berada, kapan pun itu dan selalu memberikan kesehatan dan meridhoi apa pun setiap langkah mereka.”

Sekian tulisan dan biografi singkat tentang orang tua.
Sampai jumpa di blog ku selanjutnya
Wassalamu’alaikum waraahmatullahi wabaaraakatuh

PERANGKAT PEMBELAJARAN

Nama : Siti Khusnul Fatimah Nim : 12001251 Kelas : 4G PERANGKAT PEMBELAJARAN                  Perangkat Pembelajaran merupakan salah satu pe...