Saturday, April 23, 2022

KOMPETENSI GURU

Nama : Siti Khusnul Fatimah
Nim : 12001251
Makul : Magang 1
Kelas : 4G
KOMPETENSI GURU
Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru untuk melakukan tugas dan kewajibannya dengan layak dan bertanggung jawab.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal 35 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa standar nasional pendidikan terdiri dari isi, standar proses, standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, dan standar pembiayaan harus ditingkatkan berkala dan berencana.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa seorang guru adalah pendidik profesional yang utamanya adalah mendidik, membimbing, menilai, melatih, dan mengembangkan peserta mulai dari pendidikan dasar, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan formal.
Guru sebagai agen pembelajaran (agen pembelajaran) yaitu guru berperan sebagai fasilitator, pemacu, motivator, pemberi inspirasi, dan perekayasa pembelajaran bagi peserta didik. 
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 8, kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang akan didapatkan jika mengikuti pendidikan profesi.
1. Kemampuan Individu
Kemampuan pertama guru adalah kemampuan kepribadian. Kemampuan kepribadian adalah jenis kemampuan pribadi yang dapat mencerminkan kedewasaan seseorang, arif, berwibawa, stabil, mantap, akhlak mulia, serta dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa.
Kompetensi pribadi dibagi menjadi beberapa komponen, antara lain:
a. Karakter stabil dan stabil. Guru harus bertindak sesuai dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat, bangga menjadi guru, dan selalu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
b. kepribadian yang matang. Guru harus menunjukkan kemandirian sebagai pendidik dan memiliki etika profesi yang tinggi sebagai guru.
c. Kepribadian yang cerdas. Pendidik harus bertindak untuk kepentingan siswa, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan pikiran yang terbuka dalam berpikir dan bertindak.
d. Jadilah karakter yang tinggi dan menjadi panutan. Guru harus bertindak sesuai dengan norma yang berlaku (iman dan taqwa, kejujuran, keikhlasan, tolong menolong) dan dapat diteladani oleh siswa.

2. keterampilan mengajar
Kompetensi mengajar adalah kemampuan guru untuk memahami siswa, merancang dan melaksanakan pembelajaran, mengembangkan siswa, dan menilai hasil belajar siswa untuk mencapai potensinya.
Kompetensi mengajar dibagi menjadi beberapa komponen, antara lain:
a. Mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang siswa. Dalam hal ini, guru harus memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian, perkembangan kognitif, dan menetapkan aturan untuk mengajar siswa.
b. Buatlah rencana pelajaran. Guru harus memahami dasar-dasar pendidikan untuk memfasilitasi pembelajaran, seperti menerapkan teori belajar dan belajar, memahami dasar-dasar pendidikan, menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, bahan ajar, kompetensi yang akan dicapai, dan menyusun desain pembelajaran.
c. untuk mempelajari. Guru harus mampu mengatur konteks pembelajaran dan melakukan pembelajaran dengan cara yang bermanfaat.
d. Merancang dan menilai pembelajaran. Guru harus dapat menggunakan metode untuk merancang dan mengevaluasi secara terus menerus proses dan hasil belajar siswa, menganalisis penilaian proses dan hasil belajar untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa, dan menggunakan hasil penilaian untuk meningkatkan program pembelajaran.
e. Mengembangkan peserta didik sebagai aktualisasi berbagai potensi peserta didik. Seorang guru mampu memberikan fasilitas untuk peserta didik agar dapat mengembangkan potensi akademik dan nonakademik yang mereka miliki.

3. kompetensi sosial
Kompetensi guru selanjutnya adalah kompetensi sosial. Kompetensi sosial adalah kemampuan seorang guru untuk berkomunikasi dan bergaul dengan staf, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar sekolah.
Kompetensi sosial dalam belajar mengajar berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar kehidupannya, sehingga peran dan cara pandang, cara berpikir, cara bertinda selalu menjadi tolok ukur terhadap kehidupannya di masyarakat. Guru menjadi contoh yang diperlakukan secara normatif karena kebiasaannya dalam status sosialnya, oleh karena itu diperlukan sejumlah kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat di tempat dia tinggal dan berada.
Keterampilan sosial meliputi:
a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, dan tidak membeda-bedakan agama, jenis kelamin, kondisi fisik, ras, latar belakang keluarga, dan status sosial.
b. Guru harus mampu berkomunikasi secara santun, empati dan efektif dengan guru lain, pendidik, orang tua dan masyarakat sekitar
c. Guru dapat beradaptasi dengan pekerjaan mereka dalam budaya yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia
d. Guru mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis.

4. Kemampuan profesional
Kompetensi guru yang terakhir adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional adalah pemahaman materi pembelajaran yang lebih luas dan mendalam. Meliputi penguasaan materi mata kuliah dan substansi keilmuan yang melampaui materi pembelajaran, serta penguasaan struktur dan metode ilmiah.
Ada dua hal yang perlu diketahui, dipahami dan dikuasai sehubungan dengan kompetensi.                                                                                                               Professional yaitu (1) kemampuan dasar guru dan (2) keterampilan dasar guru , keduanya yang harus dimiliki seorang guru dan merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguatan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Masing-masing kompetensi itu memiliki subkompetensi dan indikator isensial sesuai dengan jumlah bidang studi atau rumpum mata pelajaran.Kompetensi profesional meliputi:
a. Penguasaan materi, konsep, struktur dan cara berpikir ilmiah yang dapat menunjang penguasaan pembelajaran
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran atau bidang
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang dikuasai secara kreatif
d. Pengembangan profesional berkelanjutan dengan mengambil tindakan reflektif
e. Menggunakan teknologi dalam komunikasi dan pengembangan diri.
Menurut Sudarmanto (2009:45), kompetensi adalah suatu atribut yang digunakan untuk menempatkan sumber daya manusia dengan kualitas yang baik dan unggul. Atribut tersebut meliputi keterampilan, pengetahuan, dan keahlian atau karakteristik tertentu.

Tuesday, April 19, 2022

MANAJEMEN KELAS

Nama : Siti Khusnul Fatimah
Nim : 12001251
Kelas : 4G
Maul : Magang 1 
MANAJEMEN KELAS
Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan kegiatan pembelajaran guru, memanfaatkan sumber daya sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen adalah serangkaian kegiatan atau tindakan yang dirancang untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya pembelajaran. Pengelolaan kelas merupakan syarat penting dalam menentukan terciptanya pembelajaran yang efektif.
Menciptakan kelas yang nyaman adalah studi tentang manajemen kelas, karena manajemen kelas adalah serangkaian perilaku dimana guru berusaha untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik. Efektivitas pengelolaan kelas sangat tergantung pada bagaimana guru memahami seluruh aspek pelaksanaannya.
Upaya guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi diharapkan efektif bila:
1. Pengetahuan yang akurat tentang faktor-faktor yang dapat mendukung terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses pengajaran;
2. Memahami harapan dan potensi masalah yang dapat mengganggu iklim pengajaran; dan
3. Menguasai berbagai metode dalam pengelolaan kelas, serta mengetahui kapan dan untuk masalah apa suatu metode digunakan (Entang dan Joni, 1983:7).
Manajemen kelas merupakan upaya total guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pengelolaan kelas menentukan berhasil tidaknya pembelajaran guru dan siswa.
Terlihat bahwa peran guru dalam pengelolaan kelas sangat menentukan efektivitas guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Manajemen kelas berasal dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata manage yang berarti mengurus, memimpin, mencapai,  dan  memerintah.
Tujuan pengelolaan kelas secara inheren tertanam dalam tujuan pendidikan. Secara umum, tujuan pengelolaan kelas adalah untuk menyediakan fasilitas bagi berbagai kegiatan belajar siswa di lingkungan sosial, emosional dan intelektual kelas. Fasilitas yang diberikan memungkinkan siswa untuk belajar dan bekerja, menciptakan suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, pengembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi siswa "Djamarah dan Zain, 2010:178".
Manajemen kelas adalah pengaturan kegiatan secara sadar dan sistematis dalam proses belajar mengajar. Upaya sadar ini meliputi penyiapan bahan ajar, penyediaan alat peraga dan media atau media pembelajaran, penataan ruang belajar, dan penciptaan suasana belajar yang kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang melakukan pengelolaan kelas harus memahami seluruh aspek kegiatan pengelolaan kelas atau manajemen kelas.
Tujuan pengelolaan kelas adalah untuk menyediakan fasilitas bagi berbagai kegiatan belajar siswa di lingkungan sosial, emosional dan intelektual kelas. Fasilitas yang diberikan memungkinkan siswa untuk belajar dan bekerja, menciptakan suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap apresiatif terhadap siswa. Menurut Arikunto (1988:68), tujuan pengelolaan kelas adalah memungkinkan setiap anak di dalam kelas bekerja dengan tertib sehingga tujuan guru tercapai dengan segera dan efisien serta efektif.
Kegiatan pengelolaan kelas bertujuan untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal bagi proses belajar siswa, seperti mengembangkan hubungan siswa-guru yang baik, penguatan, hukuman, dan pemberian tugas. Tujuan dari manajemen kelas adalah:
1. Memahami situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, sehingga memungkinkan siswa untuk memaksimalkan kemampuannya;
2. Menghilangkan hambatan yang dapat menghambat terwujudnya interaksi belajar;
3. Menyediakan dan menata sarana dan prasarana belajar untuk mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa di dalam kelas; dan
4. Untuk melatih dan membimbing siswa sesuai dengan karakteristik sosial, ekonomi, budaya dan pribadi mereka. Kemampuan seorang guru untuk memahami dan menerapkan konsep-konsep pengelolaan kelas merupakan faktor penentu keberhasilan pembelajaran.
Prinsip Manajemen Kelas
Dalam pengelolaan kelas, ada beberapa prinsip yang harus ditempuh sebagai prasyarat terciptanya model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu “Mu Haimin, 2002: 137-144”.
1. persiapan
Kesiapan belajar adalah pematangan dan pertumbuhan fisik, mental, intelektual, latar belakang pengalaman, standar hasil belajar, motivasi, persepsi, dan faktor lain yang memungkinkan seseorang untuk belajar.
2. Prinsip “motivasi”
Motivasi adalah dorongan atau tarikan yang menyebabkan perilaku bergerak menuju suatu tujuan. Adanya motivasi akan sangat menunjukkan minat, memiliki minat dan rasa ingin tahu yang kuat dalam melakukan kegiatan belajar, bekerja keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut dan tetap bekerja sampai tugas selesai.
3. Perhatikan prinsipnya
Perhatian merupakan strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan, yaitu menghadapi masalah, meninjau secara singkat isi masalah, memusatkan perhatian pada aspek yang relevan, dan mengabaikan rangsangan yang tidak relevan. Perhatian merupakan faktor yang sangat besar dalam proses belajar.
4. Prinsip persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan saat menggunakan persepsi adalah:
a. Semakin baik persepsi terhadap sesuatu, semakin mudah siswa belajar mengingat sesuatu.
b. Dalam pembelajaran perlu untuk menghindari kesalahpahaman, karena hal ini juga membuat siswa salah memahami apa yang mereka pelajari.
c. Dalam pembelajaran hendaknya diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati objek nyata, sehingga siswa dapat memperoleh persepsi yang lebih akurat.
5. Prinsip reservasi
Retensi adalah sesuatu yang tertinggal yang dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi, pengetahuan yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat dipanggil kembali saat dibutuhkan. Oleh karena itu, tingkat retensi akan menentukan hasil yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
6. Prinsip pemindahan
Transfer adalah proses di mana apa yang dipelajari mempengaruhi proses belajar hal-hal baru. Oleh karena itu, transfer berarti menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan apa yang baru saja dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan atau masalah di tempat kerja yang akan dihadapi di masa depan.

Monday, April 11, 2022

MANAJEMEN SEKOLAH

NAMA : SITI KHUSNUL FATIMAH
NIM : 12001251
KELAS : 4G

MANAJEMEN SEKOLAH
Manajemen sekolah adalah kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, baik nasional maupun kelembagaan, yang hasilnya dapat dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator pencapaian kinerja sekolah. Kepala sekolah harus mampu menjalankan tugas dan fungsinya mengelola berbagai komponen sekolah guna mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Kepala sekolah menunjukkan dua peran utamanya, peran manajer dan peran pemimpin.
Manajemen sekolah adalah tindakan manajemen dan administrasi sekolah. Manajemen sekolah berarti memberdayakan manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah. Ada dua aspek manajemen sekolah, yaitu manajemen eksternal dan manajemen internal.
Pengelolaan internal sekolah meliputi perpustakaan, laboratorium, gedung dan sarana fisik lainnya, sumber dana, pelaksanaan penilaian pendidikan, dan hubungan guru-murid. Sedangkan manajemen eksternal meliputi hubungan dengan pihak-pihak di luar sekolah, seperti masyarakat, Dinas Pendidikan, Dinas Pendidikan, dan pihak lain yang terkait dengan fungsi sekolah.
Manajemen sekolah adalah pengelolaan sekolah sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Manajemen sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan mutu dan prestasi sekolah, sehingga penelitian ini bertujuan untuk: 1) memahami pelaksanaan manajemen sekolah; 2) memahami peran manajemen sekolah dalam meningkatkan mutu dan prestasi sekolah; 3) mengidentifikasi sekolah Mengelola masalah yang dihadapi dalam meningkatkan mutu dan prestasi sekolah.
manajemen sekolah itu lebih baik dalam aspek manajemen pembelajaran, manajemen siswa, manajemen personalia, manajemen sarana dan prasarana, manajemen keuangan, manajemen hubungan masyarakat dan manajemen layanan khusus. Peran manajemen dalam meningkatkan mutu dan prestasi sekolah adalah meningkatkan manajemen melalui manajemen mutu, mengubah pola pikir dan arah kerja guru, meningkatkan mutu guru melalui berbagai program peningkatan mutu, meningkatkan kualitas peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif. dan psikomotorik, serta sebagai implementasi penelitian komparatif dan inovasi pendidikan.
Tujuan manajemen sekolah
Menurut Sagala (2007), manajemen sekolah bertujuan untuk mencapai tatanan kerja yang lebih baik di empat bidang.
1. Meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya dan personel.
2. Meningkatkan profesionalisme guru sekolah dan tenaga kependidikan.
3. Munculnya ide-ide baru dalam implementasi kurikulum, penerapan teknologi pembelajaran, dan pemanfaatan sumber belajar.
4. Meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Tujuan utama penerapan manajemen sekolah pada hakikatnya adalah untuk menyeimbangkan struktur kekuasaan antara sekolah, proses penyelenggaraan pemerintah daerah dan pusat, sehingga pengelolaan menjadi lebih efisien. Kekuatan pembelajaran diserahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri, yaitu sekolah.
Selain itu, memberdayakan sekolah agar dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keinginan masyarakat. Tujuan penerapan manajemen sekolah adalah untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui kewenangan kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Lebih rincinya manajemen sekolah bertujuan untuk:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.
4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
Menurut Percy E. Burrup fungsi-fungsi manajemen sekolah adalah:
1. Merencanakan cara dan langkah-langkah mewujudkan tujuan program sekolah.
2. Mengalokasikan baik sumber daya maupun kegiatan mengajar sehingga masing-masing tahu tugas dan tanggung jawab.
3. Memotivasi dan menstimulus kegiatan staf pengajar sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
4. Mengkoordinir kegiatan anggota staf pengajar dan setiap satuan tugas di sekolah sehingga tenaga dapat digunakan seefektif mungkin.
5. Menilai efektivitas program dan pelaksanaan tugas pengajaran dan tujuan-tujuan sekolah yang ditentukan sudah tercapai apa belum. Dan menilai pertumbuhan kemampuan mengajar tiap guru.

Dalam manajemen sekolah terdapat beberapa bidang, yaitu sebagai berikut :
1. Manajemen kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan salah satu aspek penting dan utama yang ada disekolah. Prinsip dasarnya yaitu mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan prosedur kerja yang sudah ditetapkan sebelumnya. Manajemen kurikulum terdiri dari 4 tahapan, yaitu : merencanakan, mengorganisasi dan koordinasi, melaksanakan, dan mengendalikan.
2. Manajemen kesiswaan
Manajemen kesiswaan berfungsi sebagai pengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan siswa, dimana siswa ini menjadi bagian dari organisasi sekolah. Maksudnya yaitu seluruh siswa dan siapa pun yang menjadi siswa disekolah termasuk kedalam organisasi sekolah, bukan 'siswa (orangnya)' yang mengikuti organisasi yang ada disekolah. Disekolah, siswa hendaknya diperlakukan sebagaimana mestinya, guru harus mengamati kondisi masing-masing siswanya dan menyatakan bahwa terdapat perbedaan didalam diri masing-masing siswa tersebut. Guru harus bisa memberikan motivasi kepada siswa agar selalu bersemangat dan mau untuk belajar, dan guru harus dan setidaknya bisa membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
3. Manajemen personalia
Manajemen personalia merupakan manajemen yang berbicara tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan kualitas sekolah dengan cara memanfaatkan sumber daya manusia terbaik yang ada disekolah, dan bagaimana agar bisa menciptakan budaya kerja serta mengajar yang sehat dan baik agar semua pihak yang terlibat seperti guru, siswa, dan yang lainnya itu bisa mendapatkan hasil yang maksimal, juga dapat memberikan yang terbaik untuk kemajuan sekolah tersebut.
4. Manajemen keuangan
Manajemen keuangan ini tentu sangat berkaitan dengan sekolah, karena tidak dapat sekolah itu berdiri tanpa adanya dana. Manajemen keuangan ini berisi tentang perputaran dana yang masuk dan dana yang keluar dari sekolah, dan bagaimana caranya agar bisa menciptakan peraturan yang mampu materil agar sekolah tetap bisa beroperasi.
5. Manajemen infrastruktur
Manajemen infrastruktur ini merupakan yang mengatur segala infrastruktur yang ada disekolah, mendata dan merawat seluruh sarana dan prasarana uang ada disekolah secara periode, dan tata cara merawat nya dengan benar serta mampu harus memperbarui data-datanya.
Dalam manajemen sekolah, setiap lembaga pastinya mempunyai harapan agar mutu pendidikan yang dikelola disekolah dapat berhasil dan bermutu. Namun, kenyataan nya dilapangan, kualitas pendidikan yang ditangani lembaga pendidikan masih banyak mengalami kendala dalam pencapaian mutu pendidikan tersebut. Menurut Husnaini Usman, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan, antara lain : 
1. Kebijakan atau aturan dalam penyelenggaraan pendidikan masih banyak menggunakan dan menerapkan pendekatan fungsi produksi pendidikan dan analisis yang tidak konsisten. 
2. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan cara sentralistik atau pengaturan kewenangan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. 
3. Dan peran masyarakat terutama orang tua siswa masih sangat rendah dalam berpartisipasi di penyelenggaraan pendidikan.

Saturday, April 2, 2022

KULTUR SEKOLAH

NAMA : SITI KHUSNUL FATIMAH
NIM : 12001251
KELAS : 4G
MAKUL : MAGANG 1
KULTUR SEKOLAH
Dari materi yang saya baca tentang kultur sekolah dapat saya simpulkan bahwa kultur sekolah ini sekolah adalah pola asumsi mendasar yang muncul dari penemuan ketika suatu kelompok belajar memecahkan masalah yang valid dan dianggap valid dan pada akhirnya mengajarkan warga baru apa yang dianggap cara yang benar untuk melihat, berpikir, dan merasakan masalah Penemuan.
Nah, Jadi kultur sekolah ini merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan diuji untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi sekolah dalam menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, dan bersungguh-sungguh.
Ditinjau dari segi mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat berarti mutu yang berkaitan dengan kehidupan yang memiliki nilai moral dan agama bagi warga sekolah. Aktivitas siswa dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari peran serta budaya sekolah dalam proses bertindak, menonton bahkan berpikir. Kualitas hidup mahasiswa yang diharapkan adalah mahasiswa yang berakhlak mulia dari segi moral dan agama. Budaya positif ini akan memberikan kesempatan kepada sekolah dan warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan mental dan kecerdasan siswa.
Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan untuk menjadi aset dalam pengembangan pendidikan, menghargai dimensi spiritual dan intelektual siswa, memperbaiki kondisi dan menjadikannya lebih kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Dan kultur negatif adalah budaya yang anarkis, negatif, beracun, bias, dan mendominasi.
Sekolah yang melihat dan menargetkan hasil pendidikan hanya berupa kemampuan intelektual dan mengabaikan dimensi spiritual siswa merupakan bagian dari budaya negatif, karena seringkali gagal melakukan upaya-upaya yang mengarah pada pembentukan dan pengembangan kecerdasan spiritual siswa. Budaya sekolah itu dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan aktor, dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, meskipun hal ini sangat sulit. Namun yang jelas, dinamika budaya sekolah dapat menimbulkan konflik, dan jika ditangani dengan baik dapat membawa perubahan positif. Budaya sekolah adalah milik kolektif, proses sejarah sekolah, dan produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah.
Sekolah itu perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Karakteristik budaya sekolah
Kultur sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat berdampak pada kehidupan masyarakat sekolah, baik dengan ciri kultur positif maupun negatif. Hal ini sejalan dengan pandangan Moerdiyanto bahwa “kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. kultur positif adalah kultur yang berkontribusi terhadap kualitas sekolah dan kualitas hidup warga negara”.
Contoh Kultur Positif di sekolah:
• Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi yang tinggi.
• Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)
• Menghargai prestasi siswa
• Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi
• Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah
• Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team work yang tinggi
Contoh Kultur Negatif di sekolah:
• Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).
• Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.
• Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinnya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.
• Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannyasiswa tidak menghargai guru.
Pengaruh budaya sekolah Dalam dinamika budaya sekolah yang masih menekankan pentingnya pendidikan Kesatuan dan stabilitas sekolah, harmoni sosial, realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi seberapa cepat sekolah merespon Bervariasi berdasarkan kemampuan sekolah dalam merancang layanan Sekolah.
Kultur sekolah adalah pola asumsi dasar yang timbul dari penemuan, penemuan Ketika dia belajar memecahkan masalah, oleh kelompok tertentu Bekerja dengan baik, dianggap efektif, dan akhirnya diajarkan kepada warga Cara pandang baru, Pikirkan dan rasakan pertanyaan-pertanyaan ini. Jadi, budaya Sekolah adalah ciptaan bersama yang dapat dipelajari dan diuji dalam praktik Memecahkan kesulitan pencetakan sekolah Lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan berwawasan luas.
Sifat dinamis kultur sekolah tidak hanya pengaruh hubungan antara budaya sekolah dan budaya sekitarnya, tetapi juga pengaruh tingkat budaya. Perubahan pola perilaku dapat menangani perubahan dalam sistem nilai dan keyakinan aktor, dan bahkan dapat mengubah sistem asumsi yang ada, meskipun dengan kesulitan besar. Dinamika budaya sekolah dapat menimbulkan konflik, dan jika ditangani dengan baik dapat membawa perubahan positif (Depdiknas, Dewan Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kementerian Pendidikan Nasional merekomendasikan kultur yang Dikembangkan termasuk:
1. Kultur yang berkaitan dengan prestasi/kualitas: (a) Kegemaran membaca dan mencari referensi; (b) Data kritis siswa dan keterampilan pemecahan masalah hidup; (c) Kecerdasan emosional siswa; (d) Komunikasi lisan dan tertulis siswa keterampilan; (e) kemampuan siswa untuk berpikir secara objektif dan sistematis.
2. Kultur yang berkaitan dengan kehidupan sosial: (a) nilai keimanan dan ketakwaan; (b) nilai keterbukaan; (c) nilai kejujuran; (d) nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari keberadaan diri sendiri dan orang lain; (g) nilai-nilai menghormati orang lain; (h) nilai-nilai solidaritas dan integritas; ( i) nilai-nilai menjaga sikap positif dan prasangka setiap saat; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai bersama; (m) saling percaya nilai; (n) dan nilai lainnya sesuai dengan kondisi sekolah (Dewan Pendidikan Depdiknas)
Tergantung pada fokus yang dikembangkan, keberhasilan atau kegagalan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikatornya. Beberapa metrik yang dapat dilihat antara lain: Adanya rasa solidaritas dan sinergi antar warga sekolah, berkurangnya perilaku disiplin, motivasi berprestasi, semangat dan semangat mengerjakan tugas, dan lainnya.
 Jadi dapat saya simpulkan bahwa ,kultur sekolah itu sangat berpengaruh besar terhadap sekolah,semakin buruknya kultur sekolah yang dikembangkan akan berpengaruh besar pula terhadap para warga sekolah tersebut terutama untuk para peserta didiknya. Namun apabila kultur sekolah itu dikembangkan dengan baik maka akan berpengaruh ke dalam nilai positif la sekolah itu, dan juga dapat membawa bekal sekolah yang bermutu untuk kedepannya.

PERANGKAT PEMBELAJARAN

Nama : Siti Khusnul Fatimah Nim : 12001251 Kelas : 4G PERANGKAT PEMBELAJARAN                  Perangkat Pembelajaran merupakan salah satu pe...