Saturday, April 2, 2022

KULTUR SEKOLAH

NAMA : SITI KHUSNUL FATIMAH
NIM : 12001251
KELAS : 4G
MAKUL : MAGANG 1
KULTUR SEKOLAH
Dari materi yang saya baca tentang kultur sekolah dapat saya simpulkan bahwa kultur sekolah ini sekolah adalah pola asumsi mendasar yang muncul dari penemuan ketika suatu kelompok belajar memecahkan masalah yang valid dan dianggap valid dan pada akhirnya mengajarkan warga baru apa yang dianggap cara yang benar untuk melihat, berpikir, dan merasakan masalah Penemuan.
Nah, Jadi kultur sekolah ini merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan diuji untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi sekolah dalam menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, dan bersungguh-sungguh.
Ditinjau dari segi mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat berarti mutu yang berkaitan dengan kehidupan yang memiliki nilai moral dan agama bagi warga sekolah. Aktivitas siswa dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari peran serta budaya sekolah dalam proses bertindak, menonton bahkan berpikir. Kualitas hidup mahasiswa yang diharapkan adalah mahasiswa yang berakhlak mulia dari segi moral dan agama. Budaya positif ini akan memberikan kesempatan kepada sekolah dan warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan mental dan kecerdasan siswa.
Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan untuk menjadi aset dalam pengembangan pendidikan, menghargai dimensi spiritual dan intelektual siswa, memperbaiki kondisi dan menjadikannya lebih kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Dan kultur negatif adalah budaya yang anarkis, negatif, beracun, bias, dan mendominasi.
Sekolah yang melihat dan menargetkan hasil pendidikan hanya berupa kemampuan intelektual dan mengabaikan dimensi spiritual siswa merupakan bagian dari budaya negatif, karena seringkali gagal melakukan upaya-upaya yang mengarah pada pembentukan dan pengembangan kecerdasan spiritual siswa. Budaya sekolah itu dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan aktor, dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, meskipun hal ini sangat sulit. Namun yang jelas, dinamika budaya sekolah dapat menimbulkan konflik, dan jika ditangani dengan baik dapat membawa perubahan positif. Budaya sekolah adalah milik kolektif, proses sejarah sekolah, dan produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah.
Sekolah itu perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Karakteristik budaya sekolah
Kultur sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat berdampak pada kehidupan masyarakat sekolah, baik dengan ciri kultur positif maupun negatif. Hal ini sejalan dengan pandangan Moerdiyanto bahwa “kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. kultur positif adalah kultur yang berkontribusi terhadap kualitas sekolah dan kualitas hidup warga negara”.
Contoh Kultur Positif di sekolah:
• Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi yang tinggi.
• Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)
• Menghargai prestasi siswa
• Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi
• Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah
• Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team work yang tinggi
Contoh Kultur Negatif di sekolah:
• Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).
• Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.
• Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinnya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.
• Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannyasiswa tidak menghargai guru.
Pengaruh budaya sekolah Dalam dinamika budaya sekolah yang masih menekankan pentingnya pendidikan Kesatuan dan stabilitas sekolah, harmoni sosial, realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi seberapa cepat sekolah merespon Bervariasi berdasarkan kemampuan sekolah dalam merancang layanan Sekolah.
Kultur sekolah adalah pola asumsi dasar yang timbul dari penemuan, penemuan Ketika dia belajar memecahkan masalah, oleh kelompok tertentu Bekerja dengan baik, dianggap efektif, dan akhirnya diajarkan kepada warga Cara pandang baru, Pikirkan dan rasakan pertanyaan-pertanyaan ini. Jadi, budaya Sekolah adalah ciptaan bersama yang dapat dipelajari dan diuji dalam praktik Memecahkan kesulitan pencetakan sekolah Lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan berwawasan luas.
Sifat dinamis kultur sekolah tidak hanya pengaruh hubungan antara budaya sekolah dan budaya sekitarnya, tetapi juga pengaruh tingkat budaya. Perubahan pola perilaku dapat menangani perubahan dalam sistem nilai dan keyakinan aktor, dan bahkan dapat mengubah sistem asumsi yang ada, meskipun dengan kesulitan besar. Dinamika budaya sekolah dapat menimbulkan konflik, dan jika ditangani dengan baik dapat membawa perubahan positif (Depdiknas, Dewan Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kementerian Pendidikan Nasional merekomendasikan kultur yang Dikembangkan termasuk:
1. Kultur yang berkaitan dengan prestasi/kualitas: (a) Kegemaran membaca dan mencari referensi; (b) Data kritis siswa dan keterampilan pemecahan masalah hidup; (c) Kecerdasan emosional siswa; (d) Komunikasi lisan dan tertulis siswa keterampilan; (e) kemampuan siswa untuk berpikir secara objektif dan sistematis.
2. Kultur yang berkaitan dengan kehidupan sosial: (a) nilai keimanan dan ketakwaan; (b) nilai keterbukaan; (c) nilai kejujuran; (d) nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari keberadaan diri sendiri dan orang lain; (g) nilai-nilai menghormati orang lain; (h) nilai-nilai solidaritas dan integritas; ( i) nilai-nilai menjaga sikap positif dan prasangka setiap saat; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai bersama; (m) saling percaya nilai; (n) dan nilai lainnya sesuai dengan kondisi sekolah (Dewan Pendidikan Depdiknas)
Tergantung pada fokus yang dikembangkan, keberhasilan atau kegagalan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikatornya. Beberapa metrik yang dapat dilihat antara lain: Adanya rasa solidaritas dan sinergi antar warga sekolah, berkurangnya perilaku disiplin, motivasi berprestasi, semangat dan semangat mengerjakan tugas, dan lainnya.
 Jadi dapat saya simpulkan bahwa ,kultur sekolah itu sangat berpengaruh besar terhadap sekolah,semakin buruknya kultur sekolah yang dikembangkan akan berpengaruh besar pula terhadap para warga sekolah tersebut terutama untuk para peserta didiknya. Namun apabila kultur sekolah itu dikembangkan dengan baik maka akan berpengaruh ke dalam nilai positif la sekolah itu, dan juga dapat membawa bekal sekolah yang bermutu untuk kedepannya.

No comments:

Post a Comment

PERANGKAT PEMBELAJARAN

Nama : Siti Khusnul Fatimah Nim : 12001251 Kelas : 4G PERANGKAT PEMBELAJARAN                  Perangkat Pembelajaran merupakan salah satu pe...